Letusan hebat gunung TAMBORA..


tambora

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama [[gunung berapi tidur|gunung berapi “tidur”]], yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam [[dapur magma]] yang tertutup. Didalam [[dapur magma]] dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 [[bar|kbar]] muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index. Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg. Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700 m. Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m². Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m, salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari punca

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal [[5 April]] [[1815]], erupsi terjadi, diikuti dengan suara [[guruh]] yang terdengar di [[Makassar]], [[Sulawesi]] (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini [[Jakarta]]) di pulau [[Jawa]] (1.260 km dari gunung Tambora), dan [[Ternate]] di [[Maluku]] (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau [[Sumatera]] pada tanggal [[10 April|10]]-[[11 April]] [[1815]] (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan . Pada pagi hari tanggal [[6 April]] [[1815]], abu vulkanik mulai jatuh di [[Jawa Timur]] dengan suara guruh terdengar sampai tanggal [[10 April]] [[1815]].

Pada pukul 7:00 malam tanggal [[10 April]], letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung.Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal [[11 April]]. Abu menyebar sampai [[Jawa Barat]] dan [[Sulawesi Selatan]]. Bau “nitrat” tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal [[11 April|11]] dan [[17 April]]

Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal [[5 April]], mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari [[Yogyakarta|Djocjocarta]], dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala [[Volcanic Explosivity Index]].

Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung [[Krakatau]] tahun [[1883]]. Diperkirakan 100 km³ piroklastik [[trakiandesit]] dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×10<sup>14</sup> kg. Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700 m.Massa jenis abu yang jatuh di [[Makassar]] sebesar 636 kg/m². Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

letusan ini juga menyebabkan TAHUN TANPA MUSIM PANAS

Sumber:

http://id.wikipedia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • sunatullah.com
  • Blog Status

  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru.

    Join 9 other followers

  • %d bloggers like this: